Teringat ketika saya kecil, saya yang tidak pernah mengenyam TK betapa bangganya ketika harus menggenakan seragam putih merah, lengkap dengan dasi dan topi, betapa haru ketika memasuki gedung sekolah yang berbentuk U itu lengkap dengan lapangan yang ditengah2nya berdiri tegak tiang bendera.. Wooh inilah sekolah pikir saya bahagia.
Selesai berkenalan dengan sekolah, tiba saatnya masuk ke dalam kelas yang cukup menciutkan nyali, bagaimana tidak dikelas itu ada banyak anak lain rupanya dengan wajah2 polos mereka. Sekitar 40 anak dalam satu ruangan yang didepannya berdiri seorang guru yang mungkin tingginya hanya 150cm, dengan papan tulis besar berwarna hitam, sementara penggaris kayu ditangan kiri dan kapur putih ditangan kanan. Setiap kami berisik, tak segan2 penggaris itu beradu dengan meja ataupun papan tulis yang membuat sesisi ruangan kaget dan terdiam.
Dalam satu hari disekolah terpampang sudah huruf dan angka dipapan tulis, hingga saya pun pulang dengan perasaan cukup puas karena saya mendapatkan apa yang saya inginkan disekolah yaitu punya teman banyak. Hari kedua masih sama seperti kemarin, namun keriuhan kembali terjadi, rupanya masih ada banyak teman2 saya yang nangis yang usil yang ribut dengan segala rupa tingkah lakunya, dan kembali guru menabrakan pengaris kayunya ke papan sebagai tanda pentertiban. Hari ketiga mulai lah hati saya dibuat menciut, tes pun dimulai, saya yang belum bisa membaca diusia saya yang 6tahun itu dibuat bersedih karena harus menerima bulatan besar didalam sebuah kertas ulangan bahasa, lantas sayapun menyerahkan ke ibu dan ibu berkata bahwa nilai tes bahasa saya nol, apapun itu saya tidak terlalu merisaukannya karena saya belum mengerti arti angka tersebut.
Hari ke hari saya disekolah SD mulai sedikit menjenuhkan, dengan tes dan PR setiap hari sementara tak bosan2nya guru memberi angka bulatan besar pada lembar tes saya, dan lagi saya menyerahkannya kepada ibu dengan ekspresi datar ibu pun berkata "nol" , namun kali ini saya punya ide untuk memberi hiasan pada angka nol itu, saya beri mata hidung dan bibir, setidaknya saya berharap ibu tidak bosan melihat lembar tes saya yang selalu berangka bulatan besar.
Sekian lama duduk di bangku SD kelas 1 saya mulai merasakan kejenuhan, kala guru mulai hilang kesabaran menghadapi anak muridnya yang gagal mengerti apa yang diharapkan oleh gurunya. Sehingga tidak jarang guru mulai menjewer dan bernada keras kepada kami. Singkat cerita saya pun mulai lancar membaca, 3bulan pertama di SD pembagian raport pun dilakukan, alangkah sedihnya ekspresi ibu kala melihat isi raport saya yang berwarna merah untuk bahasa dan matematika. Seketika saya diminta untuk lebih rajin belajar, dan saya pun semakin mulai tidak betah berlama2 duduk dikelas berusaha mendengar dan mengerti maksud guru. Sungguh ini tidak mudah untuk saya, hingga saya pun berhasil duduk dikelas 2 SD, dan lagi saya pun bergumam walau beda guru tapi belajar itu sungguh tidak menyenangkan, selama duduk dikelas saya hanya diminta untuk mendengarkan guru lalu latihan soal dan PR. Seketika pandangan saya berubah tentang sekolah, betapa tidaklah menyenangkan disekolah itu bu, saya lebih sering dituntut untuk duduk manis tidak ribut dan mengerjakan apa perintah guru, tanpa guru itu mau mendengarkan apa keinginan saya.
Dikelas 2 lah imajinasi saya mulai muncul, saya kan hanya diminta untuk duduk manis dan tidak berisik, maka mulai lah tangan saya menari indah di atas kertas, buku tulis yang seharusnya dipakai untuk belajar saya gunakan untuk mengambar apaaaaaa saja yang ada dibenak, wow ini sungguh menyenangkan pikir saya. Hari ke hari dan seterusnya, saya semakin asik menggambar, hingga mulailah terbesit ide untuk menggambar denah rumah, karena saya begitu menginginkan punya rumah yang menurut ideal saya saat itu rumah bertingkat sangat mewah dan indah untuk saya berlari naik turun tangga, saya menentukan dimana layaknya letak kamar mandi yang seharusnya berada, dimana kamar ayah dan ibu saya, kamar kaka dan adik serta dapur yang lengkap dengan lemarinya, satu hal yang saya masih ingat kala itu saya selalu mengambar denah rumah lengkap dengan piano nya, ya saya kecil memang ingin sekali bisa mendapat kesempatan bermain piano, tapi saya cukup sadar diri untuk tidak menuntut ayah saya yang hanya seorang PNS.
Hari ke hari dikelas 2SD saya semakin rajin mengambar denah rumah, hingga suatu hari guru tahu dan menegur saya, lantas melaporkannya pada ibu, betapa sedihnya ketika itu saya dinyatakan tidak serius di dalam kelas, maka pelajaran matematika saya tertinggal karena tidak pernah memperhatikan guru, dan saat itu pun saya dinyatakan tidak pandai matematika.
Naik kelas 3SD, rupanya pelajaran matematika mulai menguras otak saya untuk berpikir, sambil saya tetap meneruskan kegemaran saya membuat denah dan tidak tanggung2 kali ini dalam sehari saya bisa menghabiskan 1buku untuk sekedar mengambar denah yang berbeda2, wow betapa menyenangkan sekali. Pelajaran matematika saat itu semakin membuat kepala saya pusing, bagaimana tidak dalam hitungan bulan saya yang sudah dinyatakan tidak pandai matematika tetapi masih harus dituntut untuk bisa maka yang terjadi adalah berusaha melepaskan diri dari pelajaran matematika. Di benak saya yang ada saat itu setiap kali pelajaran matematika adalah saya ijin minta pulang, bayangkan anak SD kelas 3 sudah bisa berbohong hanya untuk menghindari matematika. Ya saya begitu pandai berbohong untuk sekedar melarikan diri dari sesuatu yang membuat kepala saya pusing. Hingga akhirnya guru pun kembali memanggil ibu saya, dan sekali lagi saya pun dituntut untuk lebih rajin belajar. Tanpa bisa mengelak, saya pun berusaha menjadi anak baik tanpa menemukan solusi bagi diri sendiri, saya pun berubah menjadi anak yg penurut, dan kegiatan menggambar denah itu terhenti saat saya kelas 4SD. Dunia saya seketika berubah menjadi seorang anak yang baik dan berusaha menuruti perintah ibu dan guru. Dan saya merasa kreatifitas saya hilang semenjak saya semakin rajin mengikuti pelajaran disekolah. Angka2 yang saya bawa pulang ke rumah bukan lagi angka nol besar dkk, tetapi diatas angka 6 semua, saya pun bisa mengerjakan matematika dengan nilai cukup.
Ya mungkin dengan seperti ini setidaknya guru dan orangtua saya pun puas, sementara kemampuan saya menggambar denah pun hilang begitu saja, dan entahlah kemana pergi nya buku2 yang berisi denah rumah buatan saya, mungkin kalau saat ini masih ada betapa bahagianya saya bisa menunjukan kepada anak2 saya betapa saya dulu sangat senang menggambar denah.
Tingkat SMP pelajaran yang paling sulit seumur hidup saya adalah matematika, ditambah lagi mendapat guru yang alhamdulillah senangnya menghukum murid ketika mendapat nilai merah, kenyataan pahit pun harus saya alami selama 3tahun itu, dan lagi label "tidak pandai matematika" telah tertanam kuat pada diri saya, semakin saya dituntut utk bisa matematika semakin ingin berusaha menghindar jadinya. Dan lagi solusi pun tidak pernah saya temukan bagaimana caranya agar saya bisa dengan ikhlas menyukai matematika. Tingkat SMU pun saya tempuh, hehe dan lagi semakin saya menghindar semakin sulit rasanya, di SMU saya harus menyadari kembali saya bertemu dengan guru yang agak super dalam mengajar, super strange maksudnya, dengan keadaan pasrah saya pun berusaha menjalani.
Hingga sampailah ke jenjang kuliah dan berumahtangga hingga sekarang, tak kala mengingat itu lantas saya pun berpikir adakah selama saya menempuh pendidikan selama itu yang membuat saya merasa butuh dan perlu dengan semua pelajaran yang telah dijejalkan ke otak saya? Untuk beberapa keterampilan iyaa memang masih tersimpan rapi dalam memori, selebihnya hapalan dll tidak pernah tersimpan rapi dalam memori, ketika saya dituntut belajar dan sistem kebut semalam kala menghadapi ujian maka yang terjadi adalah semua ini demi nilai, otak saya terfokus untuk mendapatkan nilai agar kelak saya lulus dengan hasil terbaik, dibanggakan dirumah ditetangga bahkan disekolah, hingga kini saya merenung, adakah sekolah menjadi kebutuhan batin saya saat itu kala tujuan yang saya utamakan adalah nilai yang bagi saya pribadi adalah untuk memuaskan orangtua dan guru? Adakah saya masih menyimpan rumus ini itu, UUD ini itu, teori ini itu, perjanjian ini itu dalam otak saya? Dan kembali saya berpikir, bahwa sekolah itu iyaa harus dan penting, tapi ketika sekolah hanya menuntut saya untuk pintar dan bagus dalam nilai sementara kreatifitas saya dimatikan krn bukan itu yang dibutuhkan sekolah dan orangtua, maka yang terjadi adalah saya terbentuk sebagai karakter follower, nurut, menjadi anak baik, bisa mengerjakan soal dengan bagus dan mendapatkan nilai tertinggi untuk kemudian dibanggakan disekolah dan ditetangga serta disaudara....
Butuh bertahun2 untuk menemukan kembali karakter diri, ketika semakin banyak referensi dibaca bahwa oooh yah saya bukanlah saya yang dulu, dan baru saat inilah pikiran itu kembali terbuka dan semakin saya membuka diri, rasa percaya diri itu semakin muncul. Sudah cukuplah saya berada di zona yang saya sendiri tidak nyaman, ketika saya berusaha mencoba kembali berdamai dengan diri sendiri dan masa lalu, seketika diri ini kembali memunculkan berbagai imajinasi yang dulu sempat dimatikan, rasa penasaran yang dulu belum terjawab sambil berjalannya waktu, saya coba kembali memulainya kembali untuk menemukan jawabannya.
Dan lagi ini akan menjadi pengalaman saya seumur hidup, hingga rasanya tak ingin melakukan hal yang sama kepada anak2 saya kelak, bahwa menuntut ilmu itu harus, tetapi tidaklah harus sekolah mematikan imajinasi mu kreatitifitasmu hanya demi tuntutan nilai semata yang saya sendiri tidak tahu nilai2 yang tertera di raport dan nem itu apa berlaku saya gadaikan untuk mendapatkan kembali kreatifitas dan imajinasi saya yang dulu pernah hilang..
Dan kembali saya merenung bahwa cukuplah saya yang merasakan ketika sekolah bukanlah tempat yang cukup menyenangkan bagi saya sehingga pergi sekolah bukan menjadi kebutuhan tetapi kewajiban yang saya sendiri tidak mengerti arah dan tujuan saya saat harus bersekolah.
Anak2ku... Yang aku inginkan adalah memahami mu sebagai seorang anak yang terlahir dalam keadaan suci, aku hanya ingin melihat mu tertawa dan tersenyum puas saat berangkat dan kembali dari sekolah, bercerita tentang ini dan itu yang kalian lakukan bersama teman2, tentang kehidupan alam yang jawabannya dapat kalian temukan dengan menyaksikan langsung, bukan dari buku dan bukan dari cerita guru.
Anak2ku.. Yang aku inginkan adalah senyum dan ekspresi puas saat kalian menunjukan gambar apapun yang kalian gambar, menunjukan dan menceritakan kembali apa yang kalian dapatkan pelajaran hidup dari alam, bagaimana ketika kalian berhasil menanam merawat dan memanen sayuran yang kalian dapat ilmunya dari sekolah, memasak dan membuat makanan yang kalian lakukan sendiri, dan saat kalian harus berkonflik dengan teman dan berhasil menyelesaikannya sendiri.
Anakku.. Karena belajar itu bukan dari sebuah nilai dikertas ulangan, tetapi belajar itu saat kalian bisa bersikap berbuat dan melakukan segala seuatu yang kalian butuhkan dan kelak kalian manfaatkan untuk hidup kalian nanti. Mamah tidak selalu bisa mendampingi kalian selamanya, saat itulah ilmu pelajaran hidup yang kalian dapatkan disekolah benar2 bermanfaat untuk hidup kalian.
Anak2ku.. Bereksperimenlah...berkreasilah...bernyanyilah.. Berlarilah..berkawan lah..berorganisasilah.. Tertawa...tersenyum...lakukanlah apapun yang ingin kalian lakukan selama tidak merugikan orang lain dan melanggar norma agama dan negara... Dan ceritakanlah kepadaku tentang bahagia dan indahnya duniamu nak.
No comments:
Post a Comment