Kasus pertama, Siang hari kami berkunjung ke rumah teman acha, siang itu acha mencoba makan permen karet yang dikasih sama temennya, otak saya pun terprogram dengan berbagai aturan mainnya, bahwa boleh makan permen tetapi saat manisnya hilang silakan dibuang dan tidak untuk ditelan. Acha yang memang baru pertama kali memakan permen karet begitu antusias dan penasaran, warning kedua pun dilakukan saat acha mulai mengunyah permen. Dan begitulah anak, semakin dilarang akan semakin dilakukan untuk menjawab rasa penasarannya, ternyata permen karet ditelannya, betapa ingin marahnya saya saat itu, sambil berusaha membuang energi negatif saya pun tidak ingin berlama2 disamping acha, dan acha pun ditenangkan oleh bunda2 yg lain. Dirumah ternyata kekesalan pun belum selesai, saya dengan mudah masih menyalahkan acha, karena tidak mau mendengarkan kata2 saya. Sambil mencari info ttg permen karet yang tertelan, saya pun sedikit tenang, karena seingat saya dulupun saya pernah menelan permen karet tanpa sengaja.
Kasus kedua, sore hari saya sengaja membawa serta anak2 ke tempat toko kado untuk mencari kado temannya noah yang ulang tahun. Sesampainya ditoko acha pun memohon untuk dibelikan kitchen set yang dipotong dari hasil uang tabungannya yang rencana akan dibelikan jaket frozen. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya saya pun mengiyakan. Sementara noah meminta mainan yang sama dengan mainan yang akan diberikan untuk teman2nya. Pulang pun masing2 mereka membawa mainan yang sudah dipilih sesuai keinginannya. Sampai dirumah betapa bahagianya anak2 dengan mainannya masing2, dan istilah rumput kakak lebih bagus daripada rumput adik pun terjadi, noah ternyata lebih tertarik dengan mainan acha yang ada suara dan lampu2nya, karena merasa digangu acha pun berusaha menghardik noah agar menjauh darinya. Melihat pertikaian itu saya berusaha menenangkan kedua anak ini, sambil berkata, kan main bareng bisa kaaan. Pertikaian tidak terhenti, sampai akhirnya acha mendorong noah hingga jatuh, dan noah yang saat jatuh masih memegang mainannya terjatuh dan terbanting hingga patah kedua roda mobilannya. Saya pun mulai terpancing untuk mengeluarkan berbagai kata2 peluapan emosi. Dan keduanya kena marah, terlebih acha karena sudah mendorong noah.
Seharusnya tidak seperti itu yang terjadi kalau...
Kasus 1, pagi hari saat bangun tidur disambut dengan pelukan, acha yang memang tipe introvert entah mengapa pagi itu baru bercerita, kalau sebenarnya dia gak sengaja tertelan permen karet saat ingin membuat gelembung balon, dan acha pun sebenarnya juga takut kenapa2 saat menelan permen karet itu. Cobaaaaaa saya bisa lebih bijak mengatur emosi, saat saya diem dan marah ke acha sebenarnya acha sudah menunjukan rasa bersalah dan ketakutan, tapi lagi saya melakukan kesalahan untuk tidak berusaha mencari kebaikan acha saat acha melakukan kesalahan. Semoga bisa menjadi pelajaran untuk kasus selanjutnya, sambil saya berkata, bicaralah cha apapun itu bicara sampaikan kepada mamah kalau kamu tidak sengaja tertelan permen karet ... Dan lagi ampuni saya ya Allah .....
Kasus kedua.. Harusnya saya memahami, untuk memisahkan acha dan noah saat bermain, karena acha masih begitu antusias dan bahagia dengan mainan barunya, harusnya saya membiarkan acha bermain sendiri dulu sepuasnya tanpa intervensi noah, tapi lagi saya melakukan kesalahan untuk mengijinkan noah menganggu kakaknya. Dan ketika sampai kejadian noah didorog acha, itu karena reflek sebagai bentuk protes acha kalau mamahnya tidak berusaha membantu acha agar menjauhkan noah darinya, harusnya saya yang menemani noah bermain mobil2an tapi saat itu saya malah sibuk sendiri di dapur menyiapkan makan malam. Dan lagi atas kejadian itu saya malah marahin acha atas penyebab jatuhnya noah dan rusaknya mainan noah. Dan lagi saya meminta maaaaaaf sama acha, ampuni saya Ya Allah yang telah zholim sama anak2 ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜.
Itulah kenapa kita perlu melatih diri untuk berfokus melihat kebaikan anak pada saat anak melakukan kesalahan, tidak semata2 menghakimi anak tanpa anak bisa membela dirinya.
#selfremainder
No comments:
Post a Comment